Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie memperingatkan penggunaan AI berlebihan berisiko melemahkan kemampuan berpikir kritis generasi muda. Ia menilai teknologi kecerdasan buatan tetap bermanfaat ketika mendorong diskusi, pengujian gagasan, serta proses analisis mandiri. Sebaliknya, kebiasaan meminta jawaban instan dapat mengurangi kesempatan otak berlatih, sehingga perkembangan kemampuan kognitif berisiko terhambat. Karena itu, Stella mendorong generasi muda menyeimbangkan pemanfaatan AI dengan latihan kognitif yang menuntut penalaran dan evaluasi.
Menurut Stella, sejumlah penelitian mengaitkan penggunaan AI yang menggantikan upaya mandiri dengan penurunan kemampuan akademik dan analisis. Salah satu temuan yang ia rujuk memperlihatkan siswa yang memakai teknologi setiap hari meraih skor sains lebih rendah. Namun, materi yang disampaikan tidak menjelaskan rancangan penelitian tersebut secara rinci, sehingga hasilnya perlu dibaca sesuai konteks.
Penggunaan AI dan Tantangan Berpikir Kritis
Stella menjelaskan bahwa dampak teknologi bergantung pada cara pengguna memanfaatkannya, bukan sekadar frekuensi akses atau kecanggihan sistem. Ia mengutip penelitian Massachusetts Institute of Technology yang membandingkan penulisan esai mahasiswa dengan bantuan AI, mesin pencari, dan tanpa teknologi. Menurut penuturannya, esai mahasiswa yang memakai AI dinilai lebih buruk dibandingkan karya peserta yang menyelesaikan tugas secara mandiri. Perbandingan tersebut menguatkan perhatian pada proses belajar, sebab kualitas pemahaman tidak selalu meningkat ketika teknologi mengambil alih pekerjaan inti.
Data Calon Dokter Menjadi Peringatan
Stella turut mengutip penelitian terhadap calon dokter yang kemampuan diagnostiknya dilaporkan menurun setelah memakai AI selama tiga bulan. Pengukuran yang ia sampaikan mencatat penurunan dari 28 persen menjadi 22 persen, tetapi metode dan konteksnya tidak dijelaskan.
“Penggunaan AI yang seperti apa yang bisa membuat kita tambah pintar atau kurang pintar,” ujar Stella Christie.
Latihan Kognitif Tetap Menjadi Kunci
Sebagai ilmuwan kognitif, Stella mengingatkan bahwa otak membutuhkan latihan berkelanjutan agar kemampuan bernalar berkembang melalui proses aktif. Ia menyarankan pemanfaatan AI untuk berdiskusi mengenai persoalan, menguji asumsi, dan memperluas sudut pandang, alih-alih menerima jawaban begitu saja. Pendekatan tersebut memberi ruang bagi pengguna untuk menilai argumen, memeriksa ketepatan informasi, serta menyusun kesimpulan sendiri berdasarkan bukti. Stella menegaskan larangan menyeluruh bukan satu-satunya solusi, sebab masyarakat perlu memahami pemanfaatan teknologi secara tepat dan bertanggung jawab.
Penggunaan AI Perlu Diarahkan untuk Belajar
Dengan penggunaan AI sebagai mitra diskusi, mahasiswa dapat menguji gagasan tanpa menyerahkan seluruh proses penalaran kepada mesin. Dosen dan mahasiswa tetap perlu membedakan bantuan untuk mengeksplorasi ide dari jalan pintas yang menggantikan pemahaman konseptual. Kebiasaan mempertanyakan keluaran AI, membandingkan sumber, dan mempertahankan argumen sendiri dapat membantu menjaga keterampilan analitis selama pembelajaran.
Kampus Perlu Menghidupkan Riset dan Forum Akademik
Di perguruan tinggi, kementerian mendorong keterlibatan mahasiswa dalam penelitian dan forum akademik yang menstimulasi pemikiran mandiri. Kegiatan tersebut diharapkan melatih mahasiswa merumuskan pertanyaan, menguji hipotesis, dan merancang gagasan inovatif berdasarkan persoalan nyata. Kampus juga perlu memastikan diskusi akademik tidak berhenti pada penggunaan alat, tetapi terus menekankan integritas dan tanggung jawab intelektual.
AI Turut Mengubah Peta Peluang Kerja
Di luar ruang kuliah, Stella menyoroti ancaman otomatisasi terhadap peluang kerja lulusan baru, terutama pada pekerjaan yang berulang. Ia mencontohkan tugas memasukkan data yang dapat diselesaikan AI lebih cepat dan dengan biaya lebih rendah daripada tenaga manusia. Pemerintah, menurut Stella, berupaya memetakan kebutuhan tenaga kerja secara kuantitatif maupun kualitatif, lalu menyelaraskannya dengan kurikulum pendidikan tinggi. Penyelarasan itu diharapkan memperkuat kompetensi lulusan agar keterampilan yang mereka kuasai tetap relevan dengan kebutuhan industri yang berkembang.
Stella menekankan kolaborasi konkret antara kampus dan industri sebagai fondasi untuk menyiapkan generasi muda menghadapi perubahan teknologi. Kemitraan tersebut dapat membuka ruang bagi pembelajaran terapan, pengembangan kemampuan, dan penciptaan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, generasi muda perlu menjadikan AI sebagai alat pendukung, sambil tetap mengasah nalar, kreativitas, dan kemandirian berpikir.